Acep Zamzam Noor
Melva, di Karang
Setra, kutemukan helai-helai rambutmu
Di lantai keramik
yang licin.
Aku selalu terkenang
kepadamu
Setiap melihat iklan
sabun, shampo atau pasta gigi
Atau setiap
menyaksikan penyanyi dangdut di televisi
Kini aku sendirian di
hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi.
Bau parfummu yang
memabukkan
Tiba-tiba menyelinap
lewat pintu kamar mandi
Dan menyerbuku
bagaikan baris-baris puisi
Kau tahu, Melva, aku
selalu gemetar oleh kata-kata
Sedang bau aneh dari
tengkuk, leher dan ketiakmu itu
Telah menjelmakan
kata-kata juga
Kini aku sendirian di
hotel ini dan merasa
Menjadi penyair lagi.
Helai-helai rambutmu yang
kecoklatan
Kuletakkan dengan
hati-hati di atas meja kaca
Bersama kertas, rokok
dan segelas kopi.
Lalu kutulis puisi
Ketika kurasakan
bibirmu masih tersimpan di mulutku
Ketika suaramu masih
memenuhi telinga dan pikiranku
Kutulis puisi sambil
mengingat-ingat warna sepatu
Celana dalam, BH
serta ikat pinggangmu
Yang dulu
kautinggalkan di bawah ranjang
Sebagai ucapan
selamat tinggal
Tidak, Melva, penyair
tidak sedih karena ditinggalkan
Juga tidak sakit
karena akhirnya selalu dikalahkan
Penyair tidak
menangis karena dikhianati
Juga tidak pingsan
karena mulutnya dibungkam
Penyair akan mati
apabila kehilangan tenaga kata-kata
Atau kata-kata
saktinya berubah menjadi prosa:
Misalkan peperangan
yang tak henti-hentinya
Pembajakan, pesawat
jatuh, banjir atau gempa bumi
Misalkan korupsi yang
tak habis-habisnya di negeri ini
Kerusuhan,
penjarahan, perkosaan atau semacamnya
O, aku sendirian di
sini dan merasa menjadi penyair lagi
0 komentar:
Posting Komentar