Seno Gumira A.
Kira-kira
sepuluh hari sebelum Lebaran tiba, gerobak-gerobak berwarna putih itu akan
muncul di berbagai sudut kota kami, seperti selalu terjadi dalam bulan puasa
tahun-tahun belakangan ini. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak
pemulung, atau bahkan gerobak sampah lainnya, dengan roda karet dan pegangan
kayu untuk dihela kedua lengan di depan. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi
manusia. Dari balik dinding gerobak berwarna putih itu akan tampak sejumlah
kepala yang menumpang gerobak tersebut, biasanya seorang ibu dengan dua atau
tiga anak yang masih kecil, dengan seorang bapak bertenaga kuat yang menjadi
penghela gerobak tersebut.
Karena tidak
pernah betul-betul mengamati, aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas
pintas, ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. Dari mana dan mau
ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu
masuk kota. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota, kadang
terlihat berhenti di berbagai tanah lapang, memasang tenda plastik, menggelar
tikar, dan tidur-tiduran dengan santai. Tidak ketinggalan menanak air dengan
kayu bakar dan masak seperlunya. Apabila tanah lapang sudah penuh, mereka
menginap di kaki lima, dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di
dalamnya. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumah-rumah gedung
bertingkat. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung
kakekku.
“Kakek,
siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka
datang?”
Kakek menjawab
sambil menghela napas.
“Oh, mereka
selalu datang selama bulan puasa, dan nanti menghilang setelah Lebaran. Mereka
datang dari Negeri Kemiskinan.”
“Negeri
Kemiskinan?”
“Ya, mereka
datang untuk mengemis.”
Aku tidak
bertanya lebih lanjut, karena kakekku adalah orang yang sibuk. Di samping
menjadi pejabat tinggi, perusahaannya pun banyak sekali, dan Kakek tidak pernah
membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. Semuanya ia tangani
sendiri. Dari jendela loteng, kuamati orang-orang di dalam gerobak itu.
Anak-anak kecil itu tampaknya seusiaku. Namun kalau aku setiap hari disibukkan
oleh tugas-tugas sekolah, anak-anak itu pekerjaannya hanya bermain-main saja.
Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu, tetapi Kakek
tentu saja melarangku.
“Jangan
sekali-sekali mendekati kere-kere itu,” kata Kakek, “kita tidak pernah tahu apa
yang mereka pikirkan tentang kita.”
“Apa yang
mereka pikirkan Kek?”
“Coba saja
kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Apa yang akan kamu pikir
jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela, dalam kerumunan
nyamuk yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah
dan pudding warna-warni waktu berbuka puasa?”
Aku tertegun.
Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka
akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka puasa
ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati,
bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. Memang mereka tidak pernah
menyebutkan kata-kata semacam, “Hati-hati terhadap orang miskin,” atau “Orang
miskin itu jahat,” tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan
segera menggandeng tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju
compang-camping dan sudah tidak jelas warnanya lagi. Dari balik topi tikar pandan
mereka yang sudah jebol tepinya, memang selalu kulihat mata yang menatap,
tetapi tak bisa kuketahui apa yang dikatakan mata itu.
Sekarang aku
tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Di mana
tempatnya, Kakek tidak pernah menjelaskan, tetapi kurasa tentunya dekat-dekat
saja, karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki?
Demikianlah gerobak-gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya.
Benarkah, seperti kata Kakek, mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah
melihat mereka mengulurkan tangan di depan rumah- rumah orang untuk mengemis.
Juga tidak kulihat mereka menengadahkan tangan di tepi jalan dengan batok
kelapa atau piring seng di depannya. Jadi kapan mereka mengemis?
Ternyata
mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Nenek misalnya
selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar
tenda di depan rumah. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja
berjajar-jajar di depan rumah, gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat
limpahan makanan pula. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan
diandaikan dengan sendirinya harus tahu, bahwa manusia-manusia dalam gerobak
itu perlu mendapat sedekah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu
tampaknya merasa, sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian
sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Mereka cukup hanya harus hadir di
kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap
sebagai hak mereka.
Begitulah dari
hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami, bahkan mobil Kakek
sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di
depan pagar. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet, dan di tepi jalan keluarga
gerobak yang memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat
mengganggu pemandangan. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia
adalah milik mereka sendiri. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas
tikar, tidur-tiduran menatap langit dengan santai, dan mereka seperti merasa
harus mendapat makanan tepat pada waktunya. Pernah pembantu rumah tangga di
rumah Kakek yang terlambat sedikit mengantar kolak untuk berbuka puasa, karena
tentu mendahulukan Kakek, mendapat omelan panjang dan pendek. Tetangga-tetangga
juga sudah mulai jengkel.
“Tenang saja,”
kata Kakek, “sehabis Lebaran mereka akan menghilang, biasanya kan begitu.”
“Tapi kali ini
banyak sekali, mereka seperti mengalir tidak ada habisnya.”
“Ya, tapi
kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang
sehabis Lebaran, pulang ke Negeri Kemiskinan.”
Para tetangga
tidak membantah. Mereka juga berharap begitu. Setiap tahun menjelang hari
Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota, tetapi setiap tahun itu pula mereka akan
selalu menghilang kembali.
Pada hari
Lebaran, gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. Meskipun kota
kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba, kali ini kota kami
penuh sesak dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan
berganda. Gerobak-gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan
dekil, dihela seorang lelaki kuat yang melangkah keliling kota. Mereka berkemah
di depan rumah-rumah gedung, mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah
gedung yang indah, kokoh, kuat, asri, dan mewah dari luar pagar tembok. Pada
hari Lebaran, penghuni rumahrumah gedung itu banyak yang pulang kampung,
meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga satpam, dititipkan kepada
tetangga, atau ditinggal dan dikunci begitu saja.
Lebih dari
separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran, pada
saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana, pasti tidak lewat
jalan tol, entah dari mana, seperti hadir begitu saja di dalam kota. Apabila
kemudian warga kota kembali dari kampung, kali ini gerobak-gerobak itu masih
tetap di sana. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat, bahkan
sebagian telah pula masuk, merayapi tembok, melompati pagar, dan hidup di dalam
rumah- rumah gedung itu.
Warga kota
yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut, orang-orang yang datang
bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut, makan di meja makan mereka,
tidur di tempat tidur mereka, mandi di kamar mandi mereka, dan berenang di
kolam renang mereka. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung
yang selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan
meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya?
“Mereka masih
di sini Kek, padahal hari Lebaran sudah berlalu,” kataku kepada Kakek.
Lagi-lagi
Kakek menghela napas.
“Mereka memang
tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang.”
“Bukankah
mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?”
“Ya, tetapi
Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang, dan tidak ada kepastian kapan
banjir lumpur itu akan selesai.”
Sekarang aku
mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. Rupa-rupanya seluruh
tubuh mereka seperti terbalut lumpur, sehingga kadang-kadang mereka tampak
seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. Baru kusadari betapa
manusia-manusia gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. Seperti mereka
betul-betul hanyalah patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu
satu makna yang terpancar dari sana.
Mereka yang
tiada punya rumah di atas bumi, di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di
bumi?
Kakek merasa
gelisah dengan perkembangan ini.
“Bagaimana
nasib cucu-cucu kita nanti,” katanya kepada Nenek, “apakah mereka harus berbagi
tempat tinggal dengan kere unyik itu?”
“Siapa pula
suruh merendam negeri mereka dengan lumpur,” sahut Nenek, “kita harus menerima
segala akibat perbuatan kita. Heran, kenapa manusia tidak pernah cukup puas
dengan apa yang sudah mereka miliki.”
Aku tidak
terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. Apakah
maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu, setelah hari Lebaran berlalu,
gerobak-gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. Sebaliknya semakin
lama semakin banyak, muncul di berbagai sudut kota entah dari mana, menduduki
setiap tanah yang kosong, bahkan merayapi tembok, melompati pagar, memasuki
rumah-rumah gedung bertingkat, tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh,
tinggal di sana entah sampai kapan. Barangkali saja untuk selama-lamanya.
2006
0 komentar:
Posting Komentar